Home » Masa Depan » Robot Hewan Berbentuk Buaya dan Salamander, Apa Kegunaanya?

Robot Hewan Berbentuk Buaya dan Salamander, Apa Kegunaanya?

Selasa, Maret 21st 2017. | Masa Depan

Kepintaran manusia memang tidak ada habisnya. Kecanggihan demi kecanggihan akan terus tercipta demi mengikuti kemajuan dunia. Sudah banyak penemuan – penemuan baru yang dilahirkan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Bahkan sudah ada robot canggih yang sangat mirip sekali dengan manusia.

Jepang adalah salah satu negara dengan tingkat perkembangan teknologi robot cukup maju dibandingkan dengan negara-negara lainya. Di Jepang teknologi robot memang berkembang dengan cepat, setelah anime dan manga yang mendunia sekarang robot yang hampir mirip dengan manusia banyak diciptakan.

Tapi ada yang menarik, ada salah satu robot yang cukup berbeda dari robot – robot lainnya yang menyerupai anatomi tubuh manusia. Ya, robot ini terbilang unik karena menyerupai seekor reptil.

Baca Juga:

Selain itu, Jika robot lain harus bekerja di tempat – tempat pada umumnya, beda dengan robot satu ini. Jauh dari kebisingan robot ini ditempatkan untuk memata – matai kehidupan pedalaman predator. Sengaja ditempatkan jauh di pedalaman Afrika untuk mempelajari kehidupan sang reptil ini.

Penemu Robot Reptil 

EPFL (École polytechnique fédérale de Lausanne) adalah penemu robot reptil yang berlokasi di Lausanne, Swiss. EPFL sendiri merupakan sebuah Universitas Sains yang hingga sekarang bekerja sama dengan Universitas berbahasa Jerman, ETH Zurich.

2 universitas ini akhirnya bergabung dan membentuk domain Institut Teknologi Konfederasi Swiss (ETH) yang sama sekali tidak bergantung dengan Departemen Urusan Ekonomi Federal. Universitas ini juga dapat mengoperasikan reaktor nuklir Crocus, reaktor Tokamak Tenaga Fusi, Blue Ginie / Q Supercomputer serta fasilitas P3 bio-hazard.

Robot Salamander

Robot Salamander

Menurut situs resminya di epfl.ch BioRob (Birorobotics Laboratory) telah meluncurkan kedua robot ciptaannya, yaitu buaya dan kadal untuk mempelajari kehidupannya lebih dekat. EPFL sendiri bekerjasama dengan BBC chanel untuk memproduksi sebuah film dokumenter.

Dengan pembuatan robot reptil seperti buaya ini akan sangat membantu untuk mengetahui lebih dalam kehidupan alam liarnya. Jika kamu adalah salah seorang yang pernah melihat bagaimana dekatnya kamera dan buaya yang ada pada video-video alam liar mungkin artikel ini membantu semua kebingungan kamu. Tidak tanggung – tanggung bentuk dan penampilannya pun benar – benar diciptakan sedemikian rupa hingga sangat mirip dengan bentuk aslinya.

Laboratorium Robot BioRob

Sudah banyak robot – robot hasil ciptaan dari Laboratorium Biorob ini. Dari Amphibot, Salamandra Robotica, Boxybot, Pleurobot dan masih banyak lagi lainnya. Namun yang menarik perhatian dari semua proyek adalah Amphibot robot amphibi yang berbentuk panjang seperti ular.

Baca:

Amfibi sendiri didefinisikan sebagai hewan bertulang belakang yang dapat hidup di dua alam sekaligus seperti di darat dan di air. Hewan amfibi itu sendiri seperti ada yang mirip kadal *salamander, katak bangkong, katak hijau serta Ichthyosis. Tapi justru robot ini malah berbentuk mirip seperti ular yang bukan tergolong hewan amfibi.

Bahan Pembuatan Robot Reptil

Seperti penjelasan sebelumnya, kedua reptil ini sangat lah mirip dengan hewan aslinya. Bahan yang diaplikasikan pun tidak lah sembarangan. Bahan yang digunakan antara lain adalah motor penggerak, aluminium dan serat karbon untuk meniru sendi dan tulang hewan – hewan itu.

Untuk lebih memudahkan pergerakannya mereka juga menghubungkan 24 motor ke komputer kecil agar kedua reptil ini dapat dengan mudah dikendalikan dari jarak jauh hingga radius 500 m atau kurang lebih 1.640 kaki. Untuk kulitnya sengaja dipilihkan bahan latex tahan air, karena mengingat robot ini akan selalu berlokasi di perairan tempat reptil lainnya hidup.

Alasan Terciptanya Dua Robot Reptil

Menariknya Kamilo Melo, ilmuwan EPFL dan kolega ternyata selama bertahun – tahun sudah mempelajari gerakan – gerakan buaya dan kadal itu. Seperti dikutip dari steemit, Kamilo Melo mengatakan bahwa kepentingan ilmiah mereka pada dasarnya menggunakan mata pelajaran Biologi untuk menciptakan robot – robot yang lebih baik lagi, yang pada akhirnya nanti robot itu akan digunakan untuk belajar Biologi.

Robot Buaya Buatan BioRob

Robot Buaya Buatan BioRob

Bionform adalah alasan kenapa kedua reptil itu tercipta. Pengambilan informasi dari Biologilah bahan dasar mereka yang kemudian menginformasikan desain robot. Sebelumnya mereka menggali informasi yang didapat dari Biologi dan melakukan semua percobaan, melakukan pengukuran secara Biologi yang pada akhirnya semua data yang didapat akan diaplikasikan pada robot – robot reptil tersebut.

Dengan adanya semua percobaan ini secara tidak langsung mereka mempelajari pergerakan dari hewan nyata.

Robot Sebagai Mata – Mata Alam Liar

Tidak bisa dibayangkan jika kamu harus memegang kamera dan berada sangat dekat bersama reptil – reptil di alam liar, bukan? Semua reptil pasti akan berbondong – bondong mendekati tubuhmu karena bentuk dan penampilan yang berbeda dari mereka. Tentu saja bukannya jadi teman malah kamu akan jadi santapan besar untuk reptil buas seperti buaya.

Buaya memang dikenal sebagai hewan buas yang tidak kenal pertemanan. Belum tentu memeliharanya dari kecil tidak akan menghilangkan sifat alaminya, buas dan liar. Oleh karena itu, robot ini sengaja diciptakan dengan kamera pengintai di bagian matanya guna mengamati, merekam serta mempelajari kehidupan nyata di alam liar.

Peran dari kedua robot reptil ini sangatlah penting bagi penelitian laboratorium Biorob, yaitu melakukan pencarian dan penyelamatan. Selain itu dengan mempelajarinya tentu akan sangat membantu dalam menjaga kelestariannya dalam upaya konsevasi.

Mempelajari Alam Liar Secara Langsung dengan Sebuah Robot

Demi mendalami kehidupan alam liar, kedua robot reptil ini di tempatkan di Sungai Neil, Uganda, sebuah medan sempurna untuk menguji ketahan robot tersebut selama dua minggu untuk mencari kehidupan reptil sesungguhnya.

Murchison Falls Natural Park merupakan tempat medan dimana kedua reptil robot tersebut ditempatkan. Murchison Falls Natural Park sendiri adalah taman nasional yang berlokasi di Uganda yang dikelola oleh otoritas kehutanan Uganda. Tempat ini pun lembab, berdebu, serta berlumpur. Situasi ini menjadi tantangan besar untuk sebuah penelitian kehidupan alam liar menggunakan sebuah robot reptil.

Robot – robot reptil ini sengaja di tempatkan di pinggir sungai serta menyusuri sungai tersebut untuk lebih memastikannya. Secara tidak langsung mereka telah mempelajari seluk beluk lingkungan hewan reptil ini agar dapat menjadi bahan informasi yang lebih akurat lagi.

Kemungkinan dengan adanya robot – robot ini di masa akan datang akan lebih di perbanyak lagi untuk membantu manusia dalam bencana darurat, seperti setelah gempa bumi. Fungsinya pun untuk membantu manusia dalam melakukan pencarian korban yang tertimbun. Jadi secara tidak langsung juga dapat mengurangi angka kecelakaan tim penyelamat yang tengah membantu.

Menurut Tomislav Horvat, ilmuan EPFL, mengatakan bahwa sebuah keberanian besar menempatkan kedua reptil tersebut ke alam liar langsung.

Sampai sekarang laboratorium Biorob masih melakukan penelitian untuk meningkatkan pembelajaran Biologi. Namun sayangnya robot ini tidak diperjualbelikan seperti halnya robot – robot lainnya yang telah dijual di Amazon. Karena bentuk dan penampilannya yang hampir mirip hewan reptil sungguhan maka nilainya sendiri tidaklah murah selain itu mengingat fungsinya untuk meningkatkan pembelajaran di Universitas Biologi.

Jadi jangan heran jika kamu melihat bagaimana bisa sebuah kamera berada sangat dekat dengan sekumpulan buaya di alam liar. Mungkin itu adalah sebuah kamera dari salah satu robot buatan Biorob, bukan?

tags: , ,

Komentar ditutup.